Tetap Berbuat Meski dengan Jabatan atau Tanpa


Jika engkau berpikir berbuat itu harus menjabat, maka sedikit sekali manusia yang punya kesempatan untuk berbuat.

Sebab jadi presiden hanya lima tahun, itu pun butuh dana besar untuk bisa mencalonkan diri. Belum kalau dalam perjalanan harus menerima kecurangan dan lain sebagainya.

Demikian pula ketika sudah menjabat, belum tentu benar-benar ingin berbuat. Sebab ketika diri maju tanpa independensi mental, sudah barang tentu akan banyak tangan yang mengendalikan. Pada akhirnya jabatan itu bukan membuat orang benar-benar bisa berbuat. Baca lebih lanjut

Iklan

Menerima yang Tidak Mudah


Menerima ternyata bukan perkara mudah. Kecuali yang umum dilakukan oleh banyak orang setiap bulan, yakni menerima gaji, menerima hadiah, atau menerima apapun yang menyenangkan.

Menerima yang sulit di sini adalah menerima ketentuan Allah berupa hal-hal yang mengharuskan diri manusia bersabar.

Seperti menerima rasa sakit dengan ikhlas. Jelas ini tidak mudah. Jangankan manusia awam, orang terdidik pun tidak banyak yang bisa lolos.

Terlebih kala harus menerima cacian, padahal diri sedang mengajak manusia ke jalan kebenaran, jelas lebih butuh jiwa besar dan iman yang tidak kacangan.

Hal demikian juga dialami oleh Rasulullah. Baca lebih lanjut

Kalimat yang Teguh


Saat dakwah Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad ο·Ί kian berkembang, menyadarkan kedunguan para tokoh Quraisy, sebagian pembesar Quraisy mulai gelisah bahkan sangat membenci Nabi Muhammad ο·Ί.

Tidak tanggung-tanggung, mereka melabeli putra Abdullah itu dengan stigma negatif, mulai dari orang gila sampai tukang sihir. Padahal, mereka sendiir yang mengantongi bukti tak terbantahkan, bahwa suami dari Siti Khadijah itu adalah β€œAl-Amin” manusia yang tak sekalipun pernah berbohong, sehingga apapun yang disampaikannya adalah pasti kebenarannya.

Mereka semakin dungu. Dan, karena itu irasionalitas menjadi pola kerja mereka dalam menghambat gelombang kebenaran yang dibawakan oleh Nabi Muhammad ο·Ί. Baca lebih lanjut

Mar’atus Shodiqoh


Pertama mendengarnya, saya merasa agak berbeda, sebab selama ini biasa mendengar Mar’atus Sholihah.

Tetapi, setelah beberapa menit menunggu akhirnya dapat jawabannya. Mereka memang sekelompok emak-emak yang kegemarannya sama, yakni bersedekah, sehingga untuk menjaga niat mereka berhimpun ditetapkanlah nama untuk majelis taklimnya, Mar’atus Shodiqoh.

Dalam hati saya mengatakan, “Keren…” ada ibu-ibu yang mau ngeriung dan hobinya sedekah.

Kalau sedekah maunya langsung, ke santri-santri yatim-dhuafa penghafal Qur’an.

Diam-diam mereka hobi belajar membaca Al-Qur’an, mulai tajwid, tahsin, hingga mati-matian bisa ngaji satu hari satu juz. “Itu berat loh, nak, bagi kami. Apalagi usia sudah punya cucu, ya,” ujar seorang anggota majelis taklim. Baca lebih lanjut

Bahagia Diskusi dengan Putriku


Hal yang paling membahagiakan, Alhamdulillah kurasakan hari ini. Yakni sesaat sebelum berangkat kerja seperti biasa, beberapa menit sempat diskusi dengan putriku yang kelas 3 SD.

Saat itu, kami bahas tentang Al-Qur’an. Ketika saya jelaskan perihal pentingnya mengerti makna Al-Qur’an dan mengambil ayat pertama Surah Al-Baqarah sebagai contoh, sontak putriku bertanya, “Jadi Al-Qur’an itu wahyu?”

“Benar, Al-Qur’an itu wahyu, maka di dalamnya semua benar, tidak ada yang salah, apalagi meragukan. Jadi, tepat jika Al-Qur’an dijadikan panduan hidup,” jawabku yang disambut anggukan kepala sebanyak tiga kali olehnya.

Tak puas dengan jawaban itu, putriku kembali melemparkan pertanyaan.

“Kalau begitu, kita harus paham maknanya, berarti?” Baca lebih lanjut

Kafir


Usai sholat Shubuh dalam hati ada dorongan kuat untuk membuka Al-Qur’an. Seperti biasa aku suka membaca Al-Qur’an secara acak.

Maka kubukalah dengan cara tidak menentukan bagian mana yang harus dibaca. Begitu dapat halaman Al-Qur’an, maka itulah yang kubaca.

Seperti ungkapan Ustadz Bachtiar Natsir dalam satu seminar peradaban di Islamic Center Bekasi, bagaimana setiap ayat yang kita baca sebisa mungkin ditadabburi.

Maka, itu kuupayakan. Alhamdulillah, hal ini telah menjadi kebiasaanku sejak masih SMA.

Nah, pas buka Al-Qur’an, ketemu ayat yang menjelaskan tentang apa dan siapa orang kafir. Kebetulan belakangan ini kata kafir lumayan ramai dibincangkan orang. Baca lebih lanjut

Membangun atau Apa?


Katanya ingin membangun bangsa, tolak hoax, dan sejahterakan rakyat. Tetapi dalam kepala setiap hari hanya soal jabatan, ambisi, dan kepentingan-kepentingan sesaat.

Kadang kita lebih buruk dari anak-anak, yang malam mengeluh panas disertai batuk, namun bangun tidur senang sekali minum es dan makanan ringan berlimpah vetsin.

Tak ada gunanya nasihat baginya. Setiap peringatan dan pemberitahuan dianggapnya kebencian, sehingga tak peduli siapapun, ekspresi marah akan ditampakkan. Pada puncaknya tangisan akan pecah dengan suara yang dikeraskan volumenya. Keras dan kencang sekali. Baca lebih lanjut

Lelah Tapi Jangan Gegabah


Manusia kadang-kadang merasakan lelah tidak biasa. Saat kondisi itu dialami, siapapun cenderung akan merasa semua salah, semua buruk, dan akhirnya pikiran pun tak bisa jernih.

Tetapi sadarlah, jika kita membaca dalam Al-Qur’an Allah Maha Mengatur, maka mengapa tidak kita pasrah dengan mendominankan pemahaman kita di atas rasa kesal atas lelah yang melanda. Baca lebih lanjut

Manusia Maju


Manusia dikatakan maju jika apa dan bagaimana?

Kebanyakan orang menilai manusia maju karena tinggal di negara A, B, atau C. Sebaliknya, manusia tidak maju karena di negara D,E, dan F tidak seperti negara, A,B, dan C.

Jika standar kemajuan manusia diukur dari capaian teknologinya, itu tidak salah. Tetapi tidak berarti negara yang teknologinya maju, maju seluruhnya.

Indonesia, apakah negara maju atau berkembang? Baca lebih lanjut

Milenial, Latihan Berpikir, Yuk!


Perkara apa yang sulit hari ini? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada Rocky Gerung, jawabannya mungkin satu kata saja, yaitu, “Berpikir.”

Ketika orang Yahudi menolak Nabi Muhammad dan mendustakan Al-Qur’an, Allah mengatakan kepada mereka, “Apakah kalian tidak berpikir!”

Kemauan berpikir memang tidak default di dalam diri anak Adam. Hanya mereka yang benar-benar mau yang akan benar-benar berpikir.

Coba lihat, bagaimana kebenaran ditolak oleh orang? Rata-rata bukan dengan argumen, tetapi kekuatan fisik, kekuasaan, dan harta. Baca lebih lanjut