Akal dalam Kehidupan


Di sebuah negeri pernah terjadi satu peristiwa dimana penguasa dan seluruh orang yang berada di posisi strategis selalu memaksakan kehendaknya kepada orang lain.

Mereka berpikir demikian karena merasa memiliki kuasa, sehingga siapapun bisa ditundukkan dengan kekuatan harta, kedudukan, atau pun ancaman hukum.

Suatu waktu, penguasa itu harus terseret pada situasi dimana dirinya harus menang dengan sosok pemuda yang hanya punya tongkat di tangannya.

Ia harus memanggil para ahli di bidang sihir, karena ia menuduh sang pemuda bertongkat itu sebagai tukang sihir.

Tukang sihir pun datang dan berkumpul menentang tukang sihir tuduhan sang penguasa bernama Fir’aun itu. Tetapi tak dinyana, ahli sihir yang dihimpun Firaun melihat kemukjizatan dari tongkat sang pemuda, dimana ular-ular kecil yang mereka lempar ditelan seluruhnya oleh ular besar jelmaan tongkat pemuda yang kita kenal bernama Musa itu.

Ahli sihir itu pun langsung berbalik, tidak lagi mengikuti kehendak sang penguasa, melainkan beriman kepada Nabi Musa alayhissalam.

Fakta ini menarik kalau kita kaji dengan akal sehat. Bahwa siapapun ahli, pemikir, atau kaum terdidik, akan bisa berada di dalam kebenaran, jika mereka mau mengakui kebenaran yang nyata di depan hidungnya.

Tetapi, mereka yang tidak lagi menggunakan akal sehat melainkan untuk tunduk pada kemauan penguasa, mereka tidak saja akan kehilangan nalar rasional, tetapi juga enyah entah kemana kemanusiaannya.

Ia atau mereka, bisa lupa akan dirinya, sehingga mulai mengatakan hal-hal yang sebenarnya itu “pekerjaan” Tuhan.

Sebagai misal, apakah dalam hidup ini yang menyelamatkan kita manusia atau Tuhan, mereka beranggapan, yang kuasa untuk itu adalah penguasa.

Seperti dikisahkan Al-Qur’an perihal dialog Nabi Ibrahim dengan Namruz. Nabi Ibrahim mengatakan bahwa Allah yang menghidupkan dan mematikan. Raja itu tak mau kalah, “Saya juga bisa menghdupkan dan mematikan.” Tentu saja maksudnya menghukum orang sampai pada tingkat hukuman mati.

Namun, akal sehat langsung memberikan tantangan nyata, “Tuhanku yang menerbitkan matahari dari timur dan menenggelamkannya di Barat. Silahkan kamu terbitkan matahari dari Barat, jika kamu benar-benar kuasa.”

Nalarnya tersadar, nyalinya ciut. Tapi ambisi tak kenal akal sehat. Penguasa itu memerintahkan sang pemuda untuk dibakar hidup-hidup.

Kisah-kisah itu ada di dalam Al-Qur’an, supaya kita mau menghidupkan akal sehat, sehingga bisa berpikir dan bertindak benar serta berakhlak mulia.

Berakhlak mulia konkretnya mampu bertutur kata lembut, logis, terarah, dan menginspirasi. Kemudian dalam skala tanggungjawab, berakhlak mulia berarti memiliki komitmen tinggi menjadikan apapun yang ada di dalam hidupnya untuk kemaslahatan umat, sehingga tidak ada hawa nafsu atau ambisi yang berubah menjadi raja.

Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari apa yang Allah jabarkan di dalam Al-Qur’an. Allahu a’lam.

Jakarta, 26 Jumadil Awwal 1440 H
Imam Nawawi

Iklan
By Imam Nawawi Posted in Hikmah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s