Milenial, Latihan Berpikir, Yuk!


Perkara apa yang sulit hari ini? Kalau pertanyaan ini diajukan kepada Rocky Gerung, jawabannya mungkin satu kata saja, yaitu, “Berpikir.”

Ketika orang Yahudi menolak Nabi Muhammad dan mendustakan Al-Qur’an, Allah mengatakan kepada mereka, “Apakah kalian tidak berpikir!”

Kemauan berpikir memang tidak default di dalam diri anak Adam. Hanya mereka yang benar-benar mau yang akan benar-benar berpikir.

Coba lihat, bagaimana kebenaran ditolak oleh orang? Rata-rata bukan dengan argumen, tetapi kekuatan fisik, kekuasaan, dan harta.

Lihatlah sikap orang Yahudi saat Allah kirimkan Thalut sebagai pemimpin mereka. Mereka menolak, karena Thalut tak lebih kaya dari mereka. Padahal, di dalam kepemimpinan bukan kekayaan yang diperlukan, tetapi kecerdasan dan kesehatan.

Demikian pula saat para pembesar Quraisy menolak Nabi Muhammad. Itu mereka lakukan bukan karena melihat Nabi Muhammad tidak jujur, tidak layak dipercaya, tapi itu karena mereka merasa siapa Muhammad, kok mau mengatur. Kalau dibiarkan bisa mati ini bisnis berhala dan sebagainya.

Nah, dalam konteks bangsa Indonesia, kondisinya tak jauh beda. Rakyat terus-menerus disajikan beragam informasi yang tidak jelas validitasnya, sehingga masyarakat selalu sibuk dengan isu, lupa berpikir. Pada akhirnya, isi kepala kita tergantung isu yang beredar, silih berganti.

Padahal, di dalam demokrasi, sebuah negara akan maju, jika rakyatnya terbiasa berpikir rasional, berpikir kritis dan tentu saja berpikir baik dan benar.

Tetapi, kita memang harus bisa menghadapi ujian ini. Bagaimana kita sebagai bangsa Indonesia berpikir seperti para pendiri bangsa. Sebenarnya ini tidak sulit, cukup konsisten di atas UUD 45 dan Pancasila, hal itu bisa kita wujudkan.

Masalahnya, belum banyak yang sungguh-sungguh melatih dirinya berpikir, sehingga antara UUD 45, Pancasila dengan realitas kehidupan berbangsa dan bernegara masih begitu terasa kesenjangannya.

Lantas, apa yang mesti kita lakukan? kepada generasi milenial tentu saja memahami sejarah bangsa, memahami masa imperialisme dimana negara-negara Eropa menyedot kekayaan negara-negara Timur secara gila-gilaan.
Kemudian, melihat apa yang melandasi para pendiri bangsa memiliki superioritas sehingga berpikir dan memilki konsep bernegara. Yang, berulang kali Rocky Gerung sampaikan, para pendiri negeri ini sangat bermutu pikirannya.

Nah, dalam satu waktu, cobalah bermain peran, seolah-olah kita adalah Sukarno, seolah-olah kita adalah Agus Salim, Syafruddin Prawiranegara, dan lain-lain. Bukan untuk menjadi mereka, tetapi sebagai tahap pengantar untuk latihan berpikir.

Kalau tidak mau latihan berpikir, kita akan kembali dijajah, dalam bahasa Cak Nun, dijajah dengan cara diakali oleh bangsa lain. Soal HAM misalnya, pernahkah kalian berpikir, kemana tuntutan HAM saat penjajahan berlangsung 350 tahun di Indonesia?

Kemudian, soal pluralisme, apakah Eropa lebih plural di banding Indonesia? Lantas kok bisa-bisanya mereka mengajari bangsa Indonesia yang sejak dari aslinya memang sangat plural?

Semua ini butuh kesadaran anak-anak milenial, latihan berpikir, bukan soal bagaimana hidup enak, tapi bagaimana menjadi penerus bangsa yang dapat dibanggakan.*

Bogor, 21 Jumadil Awwal 1440 H >>> Imam Nawawi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s