Mau Maju dan Unggul, Ini Kuncinya!!!


Jum’at berkah pekan ini, benar-benar surprise, saya dijadwal dengan beragam kegiatan yang berhimpitan, tetapi, masya Allah, kasih sayang-Nya, satu di antaranya batal, sehingga secara fisik, mobilitas saya bisa dikurangi, lumayan buat hemat energi ๐Ÿ™‚

Sahabat, dalam situasi yang seperti itu, tingkat konsentrasi saya sempat down, bagaimana tidak, tas kamera yang saya bawa, saya kira ada di rumah. Dan, saya telpon bidadari di rumah, tidak ada. Beberapa detik kemudian saya sadar, oh, yang saya tanyakan ada di punggung saya ๐Ÿ˜€

Lepas itu, saya di kereta, dan kembali ada yang menarik. “Mas, acara dicancel.” What!!! ini sudah di kereta…

Tapi, Allah Maha Mengatur. Dengan sedikit mempercepat langkah, setiba di Kalibata saya langsung ke masjid. Subhanalloh, sekalipun padat, jalan saya berwudhu sampai mendapatkan tempat sholat sunnah begitu mudah.

Singkat kata, khotib pun memulai khutbahnya. Tak seperti umumnya, khotib ini cara bicaranya slow tapi jelas. Narasinya memang soal tazkiyah tapi kalimat-kalimatnya nendang banget. Baca lebih lanjut

Iklan

Kadang Kala Senyuman Cukup Menjadi Jawaban


Di era yang manusia mulai banyak meninggalkan aktivitas membaca, berdiskusi secara sehat, dan berpikir, kerapkali kita bertemu dengan beragam kalimat yang sulit dicerna akal sehat.

Soal reuni 212 misalnya, mereka yang terlampau jauh telah meninggalkan tradisi berpikir, asyik menyoal jumlah. Atau sebagian mereka yang bertanya, Nabi Umat Islam, kok istrinya banyak, sampai ada yang anti sama poligami, misalnya.

Sementara, terhadap budaya negatif, berupa kata atau kalimat yang dahulu orang tua kita melarang, seperti ungkapan tidak patut, malah cukup sering berseliweran di dalam kehidupan ini. Dan,mereka ok ok saja. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Artikel

Syukur


Kata ini penuh arti, akrab di hati, familiar di akal, tapi seringkali jauh dari tindakan.

Kalau di smartphone ada istilan sinkronisasi, mungkin kata inilah yang belum ada di dalam instalasi sistem kesadaran kebanyakan kita, sehingga syukur itu selalu menarik dikaji namun tak mudah menjadikannya sebagai jati diri.

Ketika seseorang hidup dengan kekurangan tertentu, sehingga mesti menggunakan suatu alat, yang alat itu tidak lazim dalam kehidupan publik, ia merasa minder, pada akhirnya, sedikit demi sedikit mulai “menyalahkan” Tuhan.

Padahal, sebuah kekurangan Allah hadirkan dalam diri seseorang bukanlah tanpa kebaikan. Pertama, dengan kekurangan itu kita bisa mengikis apa yang dikenal dengan ego, kesombongan, atau thogo dalam bahasa Alquran. Sebuah istilah yang menggambarkan seseorang terlampau merasa bisa segalanya. Baca lebih lanjut

Optimis


Optimis itu seperti oksigen bagi paru-paru, sangat penting bagi kehidupan dan kesehatan tubuh.

Meski demikian, tak banyak orang mau dan berhasil hidup dengan optimis. Ada beragam fakta dan data yang mengantarkan mereka mengambil kesimpuan sebaliknya, pesimis.

Mulai tidak ada modal, tidak ada peluang, hingga akhirnya tidak ada jalan.

Padahal, di dalam hidup, kekacauan dan logika selalu berhimpitan, mencari ruang terbesar di dalam diri setiap manusia.

Beruntunglah orang yang jiwanya masih ada keimanan, sehingga logika akan selalu siap menghadapi kekacauan yang ada. Bukan disikapi dengan pesimis, tapi gairah optimisme. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Hikmah

Silaturrahim


Silaturrahim merupakan kata yang sangat populer, masyarakat biasa sampai para cendekiawan mengerti dan akrab dengan satu kata ini.

Dalam silaturrahim ada senyum, ada tukar pikiran, bahkan tidak jarang ada kesepakatan-kesepakatan yang bisa ditetapkan.

Ketika silaturrahim didesain menjadi sebuah gerakan konkret, maka bukan saja tukar pikiran yang bisa didapat, tetapi juga pembelajaran dan pengalaman.

Hal itulah yang dilakukan oleh Kita Media. Sebuah kelompok silaturrahim yang coba menekuni dunia usaha. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Produk

Berpikir Melampaui Kedisinian


Sahabat, dalam kesempatan ini saya ingin mengajak kita semua sedikit berpikir, mengapa manusia melihat yang utama, yang menguntungkan, dan membahagiakan adalah ketika mendapatkan apa-apa berupa materi.

Misalnya, dapat uang, dapat jabatan, dapat hadiah, dan lain sebagainya.

Padahal, sebagai Muslim semua kriteria positif hanya akan sampai pada tingkat hakikinya, manakala bersumber dan berakhir pada ridha Allah Ta’ala.

Misalnya, ketika seseorang dapat mendirikan sholat, belum tentu ia merasa beruntung, termasuk ketika menginfakkan sebagian hartanya, juga belum tentu merasa bahagia, apalagi beruntung. Kenapa, ada iman yang dibutuhkan. Baca lebih lanjut

Bahagia


Saat pagi engkau bisa sarapan, ditemani senyum istri dan anak, maka sesungguhnya engkau telah menggenggam dunia. Engkau pantas dan telah menjadi insan yang berbahagia.

ู‚ูŽุฏู’ ุฃูŽูู’ู„ูŽุญูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุณู’ู„ูŽู…ูŽ ูˆูŽุฑูุฒูู‚ูŽ ูƒูŽููŽุงูู‹ุง ูˆูŽู‚ูŽู†ู‘ูŽุนูŽู‡ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุจูู…ูŽุง ุขุชูŽุงู‡ู

โ€œBeruntunglah orang yang berislam, dikaruniai rezeki yang cukup, dan dia dijadikan menerima apa pun yang dikaruniakan Allah (kepadanya).โ€ (HR. Muslim).

Kehidupan dunia, sebagaimana kita ketahui, semuanya fana. Pangkat, jabatan, tempat tinggal, popularitas atau apapun, semua akan hilang, atau kita tinggalkan karena telah sampai ajal yang Allah tentukan. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Hikmah

Cinta


Menyebutnya mengundang antusias, membahasnya menarik segala perhatian, menemukannya menjadikan segalanya indah. Itulah satu dari sekian banyak kekuatan dari kata cinta.
ย 
Cinta dimensinya melampaui cakupan kerja rasio, bahkan ia menembus ruang dan waktu, dunia hingga akhirat.
ย 
Cinta memang istimewa sekaligus spesial. Ia membawa energi kebaikan dalam ragam bentuk, wujud, dan gerak. Cinta terus membangun bagaimanapun kehidupan ini hancur. Cinta tak mengenal kata menyerah. Semuanya adalah mungkin bahkan yang tidak mungkin pun terus dilawan dengan ikhtiar dan doa.
ย 
Cinta menjadikan manusia beradab, progresif, sekaligus merasakan langsung bahwa yang paling patut dicintai hanyalah Tuhan.

Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Artikel

Monas


Sejak semalam, kata Monas menjadi begitu sering diucapkan, terutama melalui media sosial.

Tetapi, bukan lagi menunjukkan makna sebenarnya, akan tetapi pada makna yang lebih “progressif” seiring dengan bersejarahnya gelaran #reuni212 di Monas.

“Monas,” kata Rocky Gerung artinya adalah, “Monumen Akal Sehat.”

Jika makna dari kata Monas yang disampaikan Rocky itu kita kembangkan, maka arah dari makna tersebut menuju kepada siapapun yang gagal paham terhadap #reuni212 sebagai orang yang mengalami gejala akal sakit atau kurang sehat, bahkan boleh jadi tidak sehat. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Artikel

Pantun Peneguh Hati


Burung merpati hinggap di pohon
Daunnya rindang buahnya lebat
Kalau hati ingin ditolong
Perbanyak dzikir perkuat taubat

Hati memang tak terlihat, tapi banyak kata yang tak bisa dipisahkan dari hati. Galau, bahagia, susah, senang adalah gambaran tentang kondisi hati anak Adam.

Namun terlepas dari suasanai hati, ada yang penting kita pahami. Yaitu perihal kondisi hati.

Ada qalbun salรฎm (hati yang selamat; sehat); qalbun mayyit (hati yang mati); dan qalbun marรฎdh (hati yang sakit). Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Hikmah