Perpisahan yang Indah


Hidup ini adalah anugerah. Dan, agar anugerah itu tetap terasa di dalam jiwa, Tuhan turunkan panduan hidup sekaligus sosok peraga yang menjalani kehidupan dengan penuh kebahagiaan, manfaat dan maslahat luar biasa, melalui Nabi dan Rasul-Nya.

Namun, dunia bukanlah ruang yang vakum. Sejak manusia pertama diciptakan, yakni Nabi Adam Alayhissalam, Iblis telah berikrar akan menjerumuskan seluruh anak manusia ke dalam neraka Jahannam.

Beragam cara, tipu muslihat dan jebakan canggih, telah dipersiapkan oleh Iblis untuk menggiring anak manusia lari dari kebenaran dan tenggelam dalam kejahilan dan kesengsaraan.

Demikianlah yang terjadi di dalam kehidupan ini. Orang banyak yang tergiur dengan bujuk rayu Iblis dan setan. Pada saat yang sama semakin menipis kepercayaannya akan kekuasaan Allah Ta’ala. Rasionalisasi dalam kehidupan pun tak bisa dihindari.

Dalam bahasa Rhoma Irama, “Banyak orang berkata, yang jujur pasti hancur. Karena ini zaman sudah edan, jujur tidak makan.”

Logika itu sepintas benar dan karena itu banyak yang memegangnya sebagai pedoman hidup. Tidak heran jika kemudian manusia terus mencari kuasa, menumpuk harta dan berlomba-lomba dalam kemegahan.

Semua aktivitas itu serasa hebat, penting dan patut dibanggakan. Padahal, bila tiba saatnya kembali ke haribaan-Nya, manusia hanya butuh terhadap tiga hal minimal. Yaitu, kain kafan, orang yang bisa mengurusi jenazahnya, dan orang yang datang mendoakan dan mensholatkannya.

Perhatikanlah kehidupan para Nabi dan Rasul, mereka bukan sosok yang sepanjang hayatnya sibuk menghimpun kuasa dan harta. Tetapi terus berjuang memberikan keteladanan.

Tetapi, kepergian mereka membuat semesta menangis, semua berduka, dan kala ada yang mengulasnya, betapa dekatnya kehidupan mereka dengan jiwa kita. Perhatikanlah bagaimana Ustadz Abdul Shomad tak kuasa menahan air mata kala berkisah perihal bagaimana akhir hayat Nabi.

Sahabat, patut kita catat, kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sendagurau. Maka jangan pernah jadikan kefanaan ini sebagai tujuan.

Ada kehidupan lebih baik, ada kehidupan abadi, yang jiwa kita sangat merindukannya, yakni Akhirat.

Teruslah beramal, meski hanya sebagai bawahan. Teruslah berkiprah sekalipun hanya menyuarakan Adzan setiap waktu sholat.

Bahagialah orang yang meninggalkan dunia sedangkan keluarga dan anak-anaknya mendoakan kemudian meneladani kebaikan-kebaikan yang diteladankan

Teruslah bergerak, sekalipun diri dipandang remeh dalam pandangan manusia. Asalkan itu kebenaran dan Allah meridhai, lakukan dan lakukanlah. Sesungguhnya kemuliaan hanya milik Allah dan hanya Dia yang akan memberikan kepada siapa yang dikehendaki. Semoga kelak kita semua dapat meninggalkan dunia ini dengan penuh kebahagiaan.

Biarkan keluarga kita menangis, tetapi mereka bangga dengan kehidupan kita di dunia, lantas mengambil pelajaran, ibrah, dan terus menghidupkan spirit Islam di dalam kehidupan mereka. Inilah perpisahan terindah yang semoga Allah anugerahkan kepada kita semua. Aamiin.

Bogor, 18 Zulqaidah 1439 H

Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia

Iklan
By Imam Nawawi Posted in Hikmah

One comment on “Perpisahan yang Indah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s