Menjadi Bangsa Unggul


Apakah Indonesia mundur?

Apakah Eropa maju?

Apakah Amerika maju?

Saat sekolah dasar, saya seolah dicekoki oleh situasi bahwa Indonesia itu nomer belakang, bahasa formalnya, Indonesia adalah negara berkembang. Saya juga belum paham betul kala itu, apa yang dimaksud negara berkembang. Karena saya pernah tinggal di desa yang ada banyak pabrik kerupuk, maka berkembang ya seperti kerupuk dalam wajan dengan minyak goreng panas. Tapi saya sendiri ragu, pasti bukan itu yang dimaksud.

Sebaliknya kalau nyebut Eropa dan Amerika, wah keren sekali. Jelas saja di jalan ada buktinya. Mobil Mercy buatan Jerman, Ford Amerika. Mitsubishi Jepang. Bersama seorang teman dekatku yang ayahnya seorang driver truk, saya kerapkali berbincang perihal mobil, truk hingga bus.

Lambat laun waktu bergulir. Ternyata Indonesia tidak kalah dari Eropa. Dalam hal teknologi misalnya, kita belum kalah kok. Buktinya Belanda lari tunggang langgang meski telah 3,5 abad ngendon di Indonesia. Artinya ada semangat jiwa yang lebih unggul, sehingga kekurangan teknologi komunikasi dan militer tak membuat Belanda selamanya menjajah negeri ini.

Keunggulan mental atau mindset, itulah modal utama untuk menjadi bangsa yang unggul. Suharsono dalam bukunya, Membangun Peradaban Islam menjelaskan perihal dialog peradaban antara Ja’far bin Abu Thalib dengan Raja Najasy. Secara empiris, posisi umat Islam kala itu jelas sangat lemah. Tapi siapa sangka, mereka unggul dalam hal nalar, sehingga Raja Najasy terperangah dengan Islam yang membuat mereka yang teraniaya secara politik itu punya kemampuan berpikir rasional dan visioner.

Mereka sama sekali tidak menghendaki selain dari penyelamatan agama. Lihatlah pula bagaimana Rib’iy bin ‘Amir ats-tsaqofi radhiyallahu ‘anh. Sosok mujahid dari seorang sahabat mulia yang pemberani. Ia diutus menjumpai Rustum setelah sebelumnya Rustum meminta kepada kaum muslimin untuk mengirimkan utusan ke istana raja Persia.

Kala memasuki istana, tentara  Rustum berkata, “Letakkan senjatamu!”

Ia pun menjawabnya dengan tenang, “Aku tidak pernah berniat mendatangi kalian, tetapi kalianlah yang mengundangku datang kemari, jika kalian memerlukanku maka biarkan aku masuk dalam keadaan seperti ini. Dan jika tidak kalian izinkan, aku akan segera kembali.”

Merekapun melaporkannya kepada Rustum. Rustum mengizinkannya tanpa syarat seraya berkata, “Biarkan dia masuk, benarkah ia datang sendirian ?”

Rib’iy mendekat dan bertongkat pada tombaknya dalam keadaan posisi ujung tombak dibagian bawah, hingga permadani yang dilewatinya penuh dengan lubang-lubang bekas tombaknya.

Mereka bertanya, “Apa yang mendorongmu melakukan ini ?”

Rib’iy menjawab, “Kami tidak suka duduk di atas perhiasan kalian ini !”

Rustum bertanya, “Apa yang kalian inginkan?”

Rib’iy menjawab dengan lantang, “Allah telah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa saja yang Dia kehendaki dari penghambaan diri kepada sesama manusia agar mereka menghambakan diri hanya kepada Rabbnya manusia (Tuhannya manusia) dan mengeluarkan mereka dari sempitnya dunia menuju luasnya dunia dan akhirat…. dan mengeluarkan mereka dari kedzaliman agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.

Maka Dia mengutus kami membawa agama-Nya untuk kami sebarkan kepada manusia. Barangsiapa menerima dakwah kami, maka kami merasa senang menerimannya dan kami akan pulang meninggalkannnya, tetapi barangsiapa menolak kami, maka kami akan memeranginya selama-alamanya hingga kami berhasil memperoleh apa yang dijanjikan Allah kepada kami”

Dua kisah di atas adalah bukti bahwa yang kita butuhkan adalah ilmu sehingga lahir superioritas dalam diri. Kita tidak akan maju hanya dengan membangun tol, memakai mobil buatan Eropa atau Amerika. Tetapi kita hanya akan unggul, manakala mental dan mindset kita memang benar-benar unggul.

Prambanan, 7 Syawal 1439 H (baru ingat untuk posting 🙂 )

Imam Nawawi >>> twitter @abuilmia

Iklan
By Imam Nawawi Posted in Hikmah

2 comments on “Menjadi Bangsa Unggul

  1. Mindset Surga menjadi Daya Dorong untuk tidak selalu merasa inferior sebagai bangsa, karena disisi lain, bangsa-bangsa lainpun sebenarnya iri melihat bangsa ini dengan segala potensinya.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s