Percayalah Kepada Tuhan, Jangan Percaya Dukun dan Setan!


Agak geli, resah, gelisah, jengkel sekaligus prihatin rasanya, melihat beberapa fakta terkini yang mengungkap kebiasaan orang mendatangi dukun untuk suatu tujuan. Bagi kaum rasionalis, jelas ini tindakan konyol. Lebih-lebih bagi umat Islam, percaya kepada selain Allah bukan sekedar konyol tetapi benar-benar kezaliman yang besar (QS. 31: 13).

ngajiSetiap orang tentu ingin apa yang menjadi impiannya terwujud. Tetapi sangatlah naif jika suatu tujuan ditempuh dengan cara-cara irasional. Seperti mempercayai dukun atau paranormal. Perbuatan ini jelas menunjukkan ketidakmampuan rasio mencerna hakikat hidup, sehingga senantiasa melakukan apa pun yang diasumsikan bisa menjadi jalan pintas menuju terealisasinya sebuah harapan.

Padahal, hidup jelas bukan undian. Siapa yang ingin kemuliaan, sudah pasti ia harus bekerja keras. Istilah dari Almarhum KH. Zainudin MZ, “Harus peras keringat, banting tulang. Tidak bisa hidup hanya dengan mengumpulkan kata ‘Jikalau’. Jikalau, seandainya, umpamanya, andaikata,” demikian ungkap dai sejuta umat itu dalam salah satu taushiyahnya yang berjudul “Bahaya Minuman Keras dan Judi.”

Artinya, orang yang percaya dukun adalah orang yang memang tidak bisa berpikir rasional. Sungguh sangat keterlaluan, jika ada seorang Muslim yang ia telah diberikan anugerah panca indera dan hati, plus keimanan, tetapi malah menjerumuskan diri pada praktik kehidupan yang bodoh seperti itu.

Berapa banyak hari ini diwartakan media, calon anggota legislatif yang mendatangi dukun? Berapa kasus terus terjadi dan terungkap ke permukaan, gadis-gadis menjadi korban pencabulan para dukun?

Kedzaliman Besar

Percaya kepada selain Allah (musyrik) adalah kedzaliman besar. Jelas ini adalah bentuk kebodohan paling buruk. Dalam istilah Arab disebut Jahil Murokkab.

Sebagai Muslim, kita harus bisa memastikan diri bersih dari unsur-unsur apalagi praktik perdukunan alias kemusyrikan seperti itu. Seorang Muslim pantang percaya kepada apa pun, kecuali hanya kepada Allah Ta’ala.

Tidak ada istilah bagi seorang Muslim percaya ramalan bintang-bintang, pernyataan dukun, atau apa pun. Kecuali hanya satu, percaya kepada Al-Qur’an dan Sunnah.

Manakala, seorang Muslim sampai masuk dalam ranah kemusyrikan dengan percaya ramalan, dukun dan sebagainya, sungguh segeralah kembali kepada Allah. Karena disadari atau tidak, perilaku tersebut hanya akan mendatangkan kesengsaraan demi kesengsaraan. Tidak saja di dunia, bahkan di akhirat. Celakanya lagi, jika tidak sempat bertaubat, maka nerakalah tempat abadinya, Na’udzubillahi min dzalik.

Jadilah Insan Cerdas

Suatu saat Rasulullah pernah ditanya, “Siapa manusia yang paling cerdas ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Manusia yang paling cerdas adalah yang mengendalikan hawa nafsunya, dan beramal untuk akhiratnya” (HR. Muslim).

Hadits tersebut memberikan petunjuk bahwa, seorang Muslim seluruhnya cerdas. Dengan catatan, ia tidak memperturutkan hawa nafsunya. Artinya, pakai akal, teliti, mau bekerja keras, sabar dalam usaha, tekun dalam do’a dan tawakkal terhadap keputusan Allah. Kemudian, semua itu dilakukan demi untuk kebaikan kehidupan akhiratnya. Bukan untuk mencari kekayaan, kedudukan, apalagi sekedar kebanggaan.

Di dalam Al-Qur’an, insan yang cerdas disebut Ulul Albab. Menurut beberapa ayat, seperti pada Surah Ali Imran ayat 190-191, Ulul Albab adalah orang yang memadukan dzikir dan fikir sampai mampu mengungkap fakta paling inti dari kehidupan ini, hingga sampailah ia pada satu kesimpulan bahwa Allah Maha Kuasa yang segala ciptaan-Nya tidak ada yang sia-sia.

Secara sederhana, ayat tersebut menjelaskan bahwa, manakala ada seorang Muslim, meskipun dia sholat, haji, dan lain sebagainya, tetapi dalam kesehariannya, lebih-lebih dalam usahanya meraih impiannya tidak diiringi dengan dzikir dan fikir, maka ia bukanlah Muslim yang cerdas. Apalagi, jika dalam praktik kesehariannya, justru banyak menerjang batasan syariat.

Sholat tetap jalan, tapi dalam usaha masih suka pake mantera-mantera, simpan zimat ini, zimat itu, entah dari orang sakti, orang pinter, warisan leluhur dan sebagainya. Haji berkali-kali, tetapi dalam interaksi sosial, masih suka memungut bunga dari uang yang dipinjamkan kepada orang lain. Jelas ini bukan Muslim yang cerdas.

Kemudian, jika dihubungkan dengan Surah Al-Baqarah ayat 269, Ulul Albab adalah Muslim yang senantiasa mampu menggali dan mengamalkan ilmu yang dimiliknya. Dengan kata lain, Muslim demikian adalah Muslim yang telah diberikan hikmah oleh Allah.

Apa itu hikmah, mungkin banyak definisi yang disampaikan para ulama. Tetapi, menarik apa yang disampaikan oleh Ibnu Qayyim terkait hikmah, yang dalam bahasa Indonesia disebut kebijaksanaan.

“Yang dinamakan bijak (hikmah) adalah melakukan tindakan yang tepat (sesuai syariat), dalam waktu yang tepat, dan dengan teknis (pola, juklak, prosedur) yang tepat, dan pilarnya adalah ilmu, kesantunan dan kesabaran. Sedang bencana dan elemen penghancurnya adalah kebodohan, tanpa perhitungan dan tergesa-gesa (hawa nafsu).”

Jadi, kecerdasan dalam Islam tidak diukur dari gelar akademik, status sosial, atau pun profesi seseorang. Kecerdasan dalam Islam hanya dilandaskan pada keimanan dan ketakwaan. Itulah mengapa, Islam mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, sekaligus mengamalkannya.

Hal ini terwakili dengan apa yang disampaikan oleh Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah. “Kebaikan itu bukan sekedar engkau banyak harta dan anak, namun engkau perbanyak ilmu dan kesantunanmu.”

Untuk itu, guna terhindar dari tipu daya setan, sudah selayaknya seluruh kaum Muslimin terus menerus membekali diri dan keluarganya dengan ilmu dan amal. Bacalah Al-Qur’an, kajilah Sunnah dan amalkanlah dengan penuh keyakinan.

Jangan sakit datang ke dukun, lagi ingin naik jabatan datang ke dukun, ingin selamat dari ancaman orang, datang lagi ke dukun, bahkan ingin menang pemilu juga datang ke dukun. Kepada dukun ada yang rela membayar mahal, bahkan ada yang menjual dirinya. Sungguh, itu cara setan dan sangat hina di mata Allah Ta’ala. Padahal, dukun itu manusia biasa, tidakkah kita berpikir?*/@abuilmia

Iklan

One comment on “Percayalah Kepada Tuhan, Jangan Percaya Dukun dan Setan!

  1. “…percaya kepada selain Allah bukan sekedar konyol tetapi benar-benar kezaliman yang besar.”

    Percaya atau iman kepada selain Allah tidak salah, justru iman itu rukunnya ada 6: iman ke Allah, ke malaikat, ke rasul, ke kitab, ke qada dan qadar, ke hari kiamat.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s