Ramadhan, Selamat Jalan


Mungkin hari ini adalah hari terakhir bulan Ramadhan. Besok kita akan ditinggalkan oleh bulan yang penuh kemuliaan ini. “Akan ku pegang teguh pesanmu wahai Ramadhan, sekalipun berat untuk kulakukan. Ramadhan, aku berjanji akan menjadi Muslim yang benar-benar bertakwa kepada Allah SWT,” itulah jeritan terdalam seorang Muslim di hari terakhir puasanya.

Selamat Jalan Ramadhan, Ku kan berusaha pegang teguh pesanmu tuk bertakwa pada Allah SWT.

Tangis pun akan semakin menjadi tatkala kita mengingat upaya setan yang begitu kuat untuk menyeret kita pada maksiat, dosa dan kutukan Tuhan. “Perjalananku akan semakin berat mempertahankan iman. Kemarin, ketika sebulan bersamamu Ramadhan, aku sangat bahagia. Gairah ibadahku meningkat, bahkan aku mampu meninggalkan maksiat. Tapi entah bagaimana ke depannya,” sebuah kekhawatiran yang harus tertanam dalam diri semua Muslim.

“Beruntung sekali, Ramadhan tak hanya mengajariku bagaimana menjadi ahli ibadah, tetapi juga dzikir dan fikir. Engkau telah membimbingku dengan penuh semangat, sekalipun terkadang aku kurang antusias untuk memiliki ilmu sehingga aku bisa berfikir dan berdzikir kepadanya,” itulah kesan terdalam setiap Muslim bersama Ramadhan.

“Ramadhan engkau juga telah mengajariku bahwa doaku (orang yang berpuasa) tidak akan pernah ditolak oleh Allah SWT. Ya Ramadhan sampaikan salamku kepada Tuhan, agar diriku selalu dalam lindungan-Nya. Aku tidak minta yang lain Ramadhan, ya itu yang utama buatku,” itulah harapan tertinggi seorang Muslim ketika menyongsong perpisahan dengan Ramadhan.

“Sekarang aku ingin membuat rencana kehidupan masa depan dengan menjadikan Ramadhan sebagai asas dalam menyusun rencana,” tekad Putri dalam dirinya.

“Aku harus mempertahankan ketakwaan yang telah kuperoleh belum sempurna ini. Aku harus sempurnakan dan pertahankan sepanjang hidupku, hingga aku menghadap Allah SWT,” ujarnya dalam hati meyakinkan.

“Jika Rasulullah selalu mampu menang dalam berbagai medan pertempuran melawan orang kafir, maka setelah Ramadhan ini aku harus selalu menang, melawan hawa nafsu dan mengukir prestasi,” nalarnya meneguhkan.

“Aku tidak boleh lagi malas, tidur pagi, banyak melakukan hal yang sia-sia. Aku harus produktif menghasilkan karya-karya positif yang bermanfaat. Jika belum bisa untuk orang lain, setidaknya bagi diriku sendiri,” optimis Putri, masih dalam hati sambil melihat-lihat coretan rencana yang baru saja dibuatnya.

“Oho iya, aku hampir lupa, aku harus bersegera menemui ayah dan ibu. Kalau aku minta maaf kepada keduanya, kemudian keduanya mendoakanku, pasti Allah akan ridho padaku. Wah…..ini yang paling utama buatku. Selebihnya aku akan berusaha semampuku, membahagiakan kedua orang tuaku. Ayah, ibu, I love You,” putri pun beranjak keluar menemui kedua orang tuanya.

Itulah kesan dan pengalaman Putri bersama Ramadhan. Bagaimana dengan kita (remaja, keluarga muda, dan para orang tua)? Sudahkah kita mempersiapkan diri untuk mengamalkan pesan Ramadhan yang beberapa jam lagi akan meninggalkan hidup kita?

Atau malah sudah siap dengan rencana rekreasi bareng pacar, hambur-hambur uang, atau bersenang-senang? Semoga saja tidak. Karena yang rekreasi bareng pacar, hambur-hambur uang adalah pekerjaan tercela. Tidak disukai Allah dan Rasul-Nya.

Semoga Allah selalu melindungi kita semua. Dan, dengan ibadah sebulan penuh kemarin, mudah-mudahan kita benar-benar bisa menjadi insan bertakwa. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Saya Imam Nawawi (Abu Ilmia) mengucapkan minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.

Persembahan dari Imam Nawawi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s