Melawan Pragmatisme


Sedih, gelisah, dan geram, mungkin itulah yang dirasakan oleh KH. Ali Mustafa Yaqub ketika mengingatkan kembali umat Islam terutama dai yang sebagian besar dinilainya mulai kehilangan orientasi dakwah (Republika, 14/6). Tujuh kode etik dakwah yang dihasilkan pada munas Ittihadul Muballighin 16 tahun silam itu belum menjadi perhatian bersama para dai.Lawan Pragmatisme

Perhatian tersebut sangat patut diperhatikan oleh seluruh elemen bangsa. Sebab dai merupakan elemen penting bagi penegakan moral dalam kehidupan umat Islam yang menjadi mayoritas di negeri ini. Dai itulah yang berinteraksi secara langsung dengan masyarakat. Jadi apabila mental dai sudah pragmatis (walakedu) maka sulit sekali kita berharap nilai-nilai etika, moral, dan akhlak akan tegak di negeri ini. Apalagi disaat yang sama nuansa pragmatisme hampir telah menyelimuti seluruh aspek kehidupan bangsa Indonesia.

Secara bahasa pragmatisme berasal dari Bahasa Yunani pragma yang berarti pekerjaan atau perbuatan. Sedangkan secara historis, pragmatisme adalah filsafat yang tumbuh dan berkembang di Benua Amerika yang dipelopori oleh filsuf Amerika Charles Sanders Perice (1839 – 1914). Dalam filsafat pragmatisme sebuah keyakinan bersifat benar karena dari situ tercipta produk-produk praktis bagi pribadi yang menganutnya, termasuk sensasi pribadi berupa kepuasan dan kebahagiaan.

Jadi pragmatisme menghendaki atau hanya berorientasi hasil yang dianggap memberi nilai keuntungan. Sebuah ajaran, keyakinan akan dianggap dusta manakala tidak memberi nilai manfaat atau hasil secara cepat dan nyata. William James (1842 – 1910) menegaskan bahwa tidak ada kebenaran dalam suatu ungkapan, sebelum ia nyata dalam kancah kehidupan.

Pragmatisme inilah yang menjadi sebab utama mengapa negeri ini mengalami krisis multidimensional yang berkepanjangan. Ironisnya para pegiat dakwah pun sampai terseret dan sebagian menikmati aliran pragmatisme ini. Bagaimana tidak hampir semua orang di dunia – termasuk Indonesia – sedang asyk-asyknya – mengejar kenikmatan materi. Bahkan standar negara maju atau tidak itu semata-mata didasarkan pada kemapanan materi belaka.

Wajar jika kemudian ajaran agama menjadi subordinat dalam kehidupan masyarakat modern. Seorang Muslim  yang semestinya mengejar akhirat tanpa lupa dunia (QS. 28 : 77) kini berbalik. Orang lebih asyk mengejar dunia dengan tidak lupa akhirat. Bahkan sebagian sudah lupa terhadap akhirat. Jadi jangan heran jika kemudian kita temukan fenomena pejabat yang dilantik dengan sumpah atas nama Allah yang dinaungi al-Qur’an, seketika lupa dengan sumpahnya tatkala harus berurusan dengan urusan dunia.

Robohnya jembatan Kutai Kartanegara dan ambruknya proyek Hambalang adalah satu bukti nyata paling update bahwa pragmatisme telah merasuk ke dalam jantung kebijakan negeri ini. Begitu pula dengan banyaknya koruptor yang diberitakan media dan ditangkap oleh KPK juga menunjukkan secara nyata bahwa pragmatisme benar-benar ada dan merajalela.

Dunia Untuk Agama

Pragmatisme muncul karena keinginan manusia yang selalu harus dipenuhi. Bahkan apabila sebuah keinginan hanya bisa dipenuhi dengan cara melanggar norma dan agama sekalipun orang sudah tidak peduli lagi. Lakukan segala cara yang penting keinginan terpenuhi. Akhirnya cara pandang sebagian besar orang kini terpolarisasi pada satu pandangan bahwa dunia ini adalah segala-galanya.

Pandangan bahwa dunia adalah segala-galanya menjadikan perwujudan nilai-nila ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan dan keadilan sangat langka dan mahal hari ini. Sebaliknya ketidakadilan, kebiadaban, kebohongan, dan kejahatan menjadi sesuatu yang dianggap lumrah dan murah. Oleh karena itu orang korupsi itu dianggap wajar. Jika ada yang tertangkap maka itu dianggapnya lagi apes (celaka).

Padahal dunia ini bukanlah segala-galanya. Dalam Islam dunia hanyalah sarana untuk menuju akhirat. Dunia seisinya hanyalah titipan dan pinjaman sementara dari Allah kepada manusia sebagai alat untuk beramal sholeh, yang kelak setiap jiwa akan diambil kembali oleh Allah SWT sebagai pemilik hakiki, kapan saja Dia menghendakinya.

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang menjadikan (motivasi) dunia sebagai cita-citanya, Allah akan menjadikan kefakiran di hadapan matanya, dan akan menjadikan kacau segala urusannya. Sedangkan dunia (yang dicarinya sungguh-sungguh) tak ada yang datang menghampirinya melainkan sesuai dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah atas dirinya; pada sore dan siang harinya dia selalu dalam kefakiran.” (HR. Tirmidzi). Baca dan camkan juga firman-Nya dalam Al-Qur’an; (QS. 3 : 14, 196, 197) & (QS. 15 : 88).

Pantas jika kemudian Sayyidah Khadijah istri Rasulullah saw merelakan seluruh harta kekayaan yang dimilikinya untuk tegaknya agama Islam. Demikian pula halnya dengan Abu Bakar, Utsman bin Affan, dan Abdurrahman bin Auf.

Bagi mereka (orang yang beriman) dunia adalah untuk agama. Bukan agama untuk dunia sebagaimana istilah walakedu (ju(w)al agama kejar duit). Sayyidina Ali dalam Tashnif Gurar Al Hikam mengatakan bahwa, “Jagalah agamamu dengan duniamu, jangan dibalik”.

Membangun Sistem Ketuhanan

Indonesia tidak sedang kekurangan orang pintar dalam hal sains dan teknologi tetapi sedang mengalami krisis manusia yang bertaqwa. Oleh karena itu cara terbaik untuk melawan pragmatisme adalah dengan membangun sistem yang berbasiskan nilai-nilai ketuhanan. Jadi tidak sebatas pada etos pribadi, melainkan sistem secara keseluruhan.

Mulai dari sistem pendidikan yang berbasis dan berorientasi pada penerapan nilai-nilai ketaqwaan, sampai pada sistem ekonomi, sosial, budaya, dan politik. Semuanya harus berbasis dan berorientasi pada terwujudnya manusia bertaqwa.

Tanpa kembali membangun sistem Ketuhanan sulitl negeri ini akan bisa memperbaiki diri. Inilah yang disebut oeh ketua MIUMI Hamid Fahmi Zarkasy sebagai membangun kembali worldview Islam. Sebuah cara pandang yang akan melahirkan manusia-manusia cerdas (al-Kaisu). Yaitu manusia yang beramal untuk dunia sekaligus untuk akhiratnya. Hanya manusia-manusia al-Kaisu (cerdas) itulah yang bisa melawan dan memberantas pragmatisme.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s