Energi Inti Kehidupan


Setiap yang bernyawa menyimpan energi, yang jika disadari dan diaktualisasikan dengan baik, maka akan tercipta kemaslahatan berkelanjutan.

Sebagai contoh ringan, di sebuah daerah terjadi musibah. Di sana belum banyak orang melek internet. Tetapi di sana ada seorang remaja yang sedang berkunjung dan memiliki akses internet. Sontak remaja itu menguploadnya ke media sosial.

Netizen jadi tahu, ramai, bahkan kemudian viral. Baca lebih lanjut

Iklan
By Imam Nawawi Posted in Artikel

Tetap Berbuat Meski dengan Jabatan atau Tanpa


Jika engkau berpikir berbuat itu harus menjabat, maka sedikit sekali manusia yang punya kesempatan untuk berbuat.

Sebab jadi presiden hanya lima tahun, itu pun butuh dana besar untuk bisa mencalonkan diri. Belum kalau dalam perjalanan harus menerima kecurangan dan lain sebagainya.

Demikian pula ketika sudah menjabat, belum tentu benar-benar ingin berbuat. Sebab ketika diri maju tanpa independensi mental, sudah barang tentu akan banyak tangan yang mengendalikan. Pada akhirnya jabatan itu bukan membuat orang benar-benar bisa berbuat. Baca lebih lanjut

Tantangan Terberat Hidup Seorang Muslim


Hidup yang paling inti dan manusia kerap berguguran adalah ketika harus menerima apapun dalam rangkaian kehidupan ini adalah ikhlas. Inilah tantangan terberat dalam hidup yang dialami setiap insan beriman.

Fudhail ibn Iyadh berkata, meninggalkan suatu amal karena orang lain adalah riyaโ€™. Sedangkan beramal karena orang lain adalah syirik. Adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.

Ada kisah menarik dalam salah satu hadits Nabi mengenai hal ini.

Rasulullah SAW mengisahkan tiga orang Muslim di hadapan mahkamah Allah SWT kelak.

Hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim, An-Nasa’i, Imam Ahmad dan Baihaqy ini meriwayatkan, ada seorang mujahid, seorang alim, dan seorang dermawan. Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang didapat ketiganya. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Hikmah

Menerima yang Tidak Mudah


Menerima ternyata bukan perkara mudah. Kecuali yang umum dilakukan oleh banyak orang setiap bulan, yakni menerima gaji, menerima hadiah, atau menerima apapun yang menyenangkan.

Menerima yang sulit di sini adalah menerima ketentuan Allah berupa hal-hal yang mengharuskan diri manusia bersabar.

Seperti menerima rasa sakit dengan ikhlas. Jelas ini tidak mudah. Jangankan manusia awam, orang terdidik pun tidak banyak yang bisa lolos.

Terlebih kala harus menerima cacian, padahal diri sedang mengajak manusia ke jalan kebenaran, jelas lebih butuh jiwa besar dan iman yang tidak kacangan.

Hal demikian juga dialami oleh Rasulullah. Baca lebih lanjut

Mengambil Manfaat dari Waktu


Waktu itu seperti buah atau makanan, akan bermanfaat jika kita ambil (konsumsi) secara tepat dan penuh kesungguhan.

Mengapa banyak orang di dalam hidupnya galau, sedih, dan tidak bahagia? Itu bukan dia tidak punya harta, tapi karena gagal mengambil manfaat dari waktu.

Usai sholat Shubuh berjamaโ€™ah, saya ajak duduk keponakan dari Balikpapan untuk membaca dua hingga empat hadits. Setelah membaca saya ajak untuk latihan mengambil hikmah di dalamnya. Ternyata ia tidak bosan, bahkan cenderung tidak mau berhenti terlalu cepat dalam pembelajaran yang spontanitas itu. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Hikmah

Kehidupan Dunia Bagaimana Memahaminya?


Manusia memang makhluk pilihan, bahkan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala dibandingkan makhluk-makhluk lainnya.

Akan tetapi, manusia sangat berpotensi terperosok pada derajat binatang ternak, bahkan jauh lebih buruk, saat semua kekuatan yang telah Allah benamkan dalam diri setiap anak Adam tidak benar-benar mau dipergunakan dengan baik. Yakni penglihatan, pendengaran, dan hati.

Sebab dilebihkan dari makhluk lainnya, manusia bisa melakukan apa yang binatang mampu lakukan, bahkan jauh lebih baik. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Artikel

Hebat dengan Al-Qur’an


“Dan sungguh, Kami telah menurunkan kepada kamu ayat-ayat yang memberi penjelasan, dan contoh-contoh dari orang-orang yang terdahulu sebelum kamu dan sebagai pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa.” (QS. 24: 34).

Sahabat, sekali waktu tengoklah kitab sucimu dengan penghayatan.

Ayat di atas misalnya, menegaskan kepada kita bahwa Al-Qur’an itu berisi ayat-ayat yang jelas. Artinya tak sukar dipahami, bahkan dalam beberapa hal, ayat itu tinggal dijalankan dengan penuh keimanan.

Misalnya, ayat “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah Menciptakan.” Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Artikel

Kalimat yang Teguh


Saat dakwah Islam yang dibawakan oleh Nabi Muhammad ๏ทบ kian berkembang, menyadarkan kedunguan para tokoh Quraisy, sebagian pembesar Quraisy mulai gelisah bahkan sangat membenci Nabi Muhammad ๏ทบ.

Tidak tanggung-tanggung, mereka melabeli putra Abdullah itu dengan stigma negatif, mulai dari orang gila sampai tukang sihir. Padahal, mereka sendiir yang mengantongi bukti tak terbantahkan, bahwa suami dari Siti Khadijah itu adalah โ€œAl-Aminโ€ manusia yang tak sekalipun pernah berbohong, sehingga apapun yang disampaikannya adalah pasti kebenarannya.

Mereka semakin dungu. Dan, karena itu irasionalitas menjadi pola kerja mereka dalam menghambat gelombang kebenaran yang dibawakan oleh Nabi Muhammad ๏ทบ. Baca lebih lanjut

Apa yang Bertambah?


Saat seseorang telah memandang indah keburukan, maka berpikir negatif, bertindak salah, arogan, sewenang-wenang, culas, dan semaunya sendiri akan menjadi perbuatan yang harus dalam pandangan hidupnya.

Demikianlah perilaku-perilaku orang yang menutup diri dari cahaya Islam. Mereka akan sangat terganggu dengan kehangatan cahaya iman, kaki dan tangan mereka ‘gatal’ setiap kali mendapati kebenaran terus-menerus ditebarkan di muka bumi.

Tipe manusia demikian tidak bisa hidup senang kecuali dengan menumpas kebenaran, membungkam pengusung kebenaran, dan menjelek-jelekkan kebenaran itu sendiri.

Akan tetapi, benarkah mereka akan sampai pada kebahagiaan dengan terus memperturutkan kegelapan hatinya itu? Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Hikmah

Jiwa yang Berbahagia


Manusia, Allah tegaskan sebagai makhluk terbaik, diberi amanah mengelola bumi dan diberikan kecerdasan.

Tetapi, pentas sejarah, sebagaimana dipaparkan Al-Qur’an, manusia-manusia terbaik di sisi-Nya adalah mereka yang hidupnya tak sepi dari ujian. Entah itu berupa kebaikan maupun keburukan.

Sebaliknya, mereka yang ingkar, nampak hidup tanpa kesulitan. Kekayaan melimpah, kekuasaan punya, kesewenangan bebas dilakukan. Meski pada akhirnya jelas, mereka masuk dalam babak akhir yang mengenaskan.

Sekalipun hal ini sudah nyata dalam sejarah dan rasio mengakui bahwa hidup memang demikian, tetapi manusia masih kerapkali terjebak pada pikiran dan perilaku yang salah dalam menjalani hidup ini. Baca lebih lanjut

By Imam Nawawi Posted in Artikel